Selama bertahun-tahun, manusia ditempatkan sebagai pusat segalanya.
Alam dipandang hanya sebagai objek yang bisa dieksploitasi demi kemajuan.
Cara pandang ini membentuk arah pembangunan, teknologi, bahkan ilmu sosial.
Namun ketika krisis lingkungan semakin nyata, muncul satu pertanyaan besar: masihkah cara berpikir lama itu relevan?
Buku Sosiologi Lingkungan karya Rachmad K. Dwisusilo mengajak pembaca menelusuri perubahan relasi manusia dengan alam dari sudut pandang sosiologi.
Buku ini menggambarkan bagaimana manusia pada awalnya hidup sepenuhnya bergantung pada alam, lalu perlahan menaklukkannya melalui pengetahuan, rasionalisme, dan revolusi industri.
Di titik inilah benih kerusakan lingkungan mulai tumbuh.
Seiring kerusakan alam yang kian terasa, asumsi lama tentang pembangunan mulai dipertanyakan.
Pembangunan tidak lagi cukup dimaknai sebagai pertumbuhan tanpa batas, tetapi harus mempertimbangkan keterbatasan alam.
Buku ini membawa pembaca memahami bagaimana kesadaran baru itu melahirkan gerakan sosial lingkungan, dari kritik terhadap pembangunan hingga munculnya gagasan ekofeminisme dan ekosentrisme sebagai penyeimbang cara pandang antroposentris.
Melalui diskursus yang tajam namun reflektif, buku ini menghubungkan isu-isu global seperti pemanasan global dan pembangunan berkelanjutan dengan sikap dasar manusia terhadap alam.
Pembaca diajak melihat bahwa krisis lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan cara berpikir dan nilai-nilai sosial yang kita anut.
Jika Anda ingin memahami mengapa isu lingkungan kini menjadi perdebatan penting dalam ilmu sosial, sekaligus melihat bagaimana sosiologi berkembang menuju wajah yang lebih ramah lingkungan, buku ini adalah bacaan yang relevan.
Dapatkan Sosiologi Lingkungan sekarang, dan mulailah memahami relasi manusia dan alam dengan cara pandang yang lebih kritis dan berkelanjutan.