Setiap hari berjalan begitu cepat, pagi datang dengan pekerjaan, siang dipenuhi urusan, malam tiba dalam keadaan lelah. Tanpa sadar, kita mulai terbiasa berkata, “Aku sibuk.”
Kalimat itu terdengar wajar, tapi pelan-pelan bisa menjadi alasan untuk menunda banyak hal yang sebenarnya penting.
Kita sibuk mengejar target, menyelesaikan tanggung jawab, membalas pesan, memenuhi kebutuhan hidup, sampai lupa bertanya pada diri sendiri: dari semua yang kita kejar hari ini, apakah ada yang benar-benar mendekatkan kita kepada Allah?
Buku Sesibuk Itukah Diriku, Hingga Lupa Jalan Pulang karya Nur Fadli hadir sebagai pengingat lembut bagi hati yang mulai lelah.
Buku ini mengajak pembaca merenungi kembali makna kesibukan, bukan untuk menyalahkan aktivitas harian, tetapi untuk menata ulang arah hidup agar tidak semakin jauh dari keluarga, dari diri sendiri, dan dari tujuan penciptaan kita.
Dengan bahasa yang dekat dan menyentuh, buku ini membantu kita menyadari bahwa tidak semua kesibukan memberi makna.
Ada kesibukan yang membuat hidup terasa penuh, tapi hati tetap kosong.
Ada rutinitas yang tampak produktif, tapi diam-diam menjauhkan kita dari Al-Qur’an, zikir, ibadah, dan ketenangan yang selama ini kita cari.
Buku ini bukan sekadar bacaan, tetapi teman muhasabah untuk siapa pun yang merasa hidupnya terlalu bising.
Ia mengajak kita berhenti sejenak, menunduk, lalu bertanya: apakah selama ini kita benar-benar sibuk, atau hanya sedang tersesat dalam hal-hal yang membuat kita lupa pulang?
Jika hati Anda mulai merindukan ketenangan, buku ini bisa menjadi langkah kecil untuk kembali mengingat Allah, menata prioritas, dan menemukan jalan pulang yang selama ini mungkin tertutup oleh kesibukan.