Banyak orang mengenal Perang Diponegoro sebagai salah satu perlawanan terbesar terhadap penjajahan Belanda.
Namun, setelah perang berakhir pada 1830, perjuangan masyarakat Jawa ternyata belum benar-benar padam.
Buku Sejarah Penaklukan Jawa karya Ahmad Wahyu Sudrajad mengajak pembaca menelusuri kehidupan para pejuang Islam setelah Perang Diponegoro, termasuk berbagai pemberontakan yang terjadi pada 1839, 1842, dan 1848 yang melibatkan kalangan aristokrat kerajaan.
Melalui buku ini, pembaca dapat melihat bagaimana Belanda datang, memperluas pengaruh, lalu ikut campur dalam urusan politik kerajaan, terutama di Surakarta.
Komunikasi dengan Sunan Amangkurat menjadi salah satu jalan masuk menuju serangkaian perjanjian, kebijakan, dan politik pecah belah yang memperkuat monopoli perdagangan sekaligus menekan kehidupan masyarakat Jawa.
Keistimewaan buku ini terletak pada penggunaan teks karya Syekh At-Tabbrizy yang memadukan catatan sejarah dengan kisah kenabian dan beragam alegori.
Dari sumber tersebut, pembaca diajak memahami kembali peranan ulama sebagai bagian penting dari perjuangan rakyat Jawa melawan kolonialisme.
Buku ini juga mengangkat kisah Maulid Qashor, sebuah karya yang ditulis di lingkungan Kerajaan Surakarta setelah Perang Diponegoro.
Kehadirannya membuka sudut pandang mengenai penyebaran Islam sekaligus jejak perlawanan para pejuang Muslim di Nusantara.
Sejarah Penaklukan Jawa bukan sekadar kisah masa lalu.
Buku ini menjadi pintu untuk memahami bagaimana kekuasaan dibangun, perlawanan dipertahankan, dan sejarah dapat tersembunyi di dalam sebuah karya sastra.