Kadang kita merasa sudah dekat dengan Qur’an karena sering melihat ayat bertebaran di timeline, mendengar lantunannya, atau menyimpannya rapi di tempat paling tinggi.
Tapi diam-diam, saat mengambil keputusan, saat menghadapi masalah, saat memilih arah hidup, justru suara lain yang lebih sering kita ikuti: tren, komentar orang, algoritma, ego, dan rasa takut tertinggal.
Di sinilah buku Qur’an Underrated hadir.
Bukan untuk menggurui, tetapi mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: selama ini kita benar-benar hidup bersama Qur’an, atau hanya bersama citranya?
Dengan bahasa yang renyah, relevan, dan dekat dengan kehidupan modern, buku ini membuka cara pandang baru tentang hubungan manusia hari ini dengan firman Tuhan.
Tentang bagaimana Qur’an sering dimuliakan secara simbolik, namun pelan-pelan tersisih dari ruang keputusan, ruang keluarga, ruang kerja, bahkan ruang hati.
Buku ini membantu pembaca melihat Qur’an bukan sekadar bacaan indah, kutipan penenang, atau caption religius, tetapi sebagai kompas hidup yang bisa menuntun cara berpikir, bersikap, memilih, dan menghadapi dunia yang semakin bising.
Jika Anda merasa hidup sering ramai di luar tapi kosong di dalam, sering tahu banyak hal tapi kehilangan arah, mungkin ini saatnya pulang.
Bukan pulang ke suasana yang kaku, tetapi pulang pada cahaya yang selama ini mungkin dekat, namun jarang benar-benar kita dengarkan.
Qur’an Underrated adalah ajakan lembut untuk kembali menjadikan Qur’an bukan hanya dihormati, tetapi dihidupkan.
Miliki bukunya sekarang, dan mulai perjalanan kecil untuk lebih dekat dengan Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.