Ada orang yang merasa paling benar. Ada yang menjerumuskan sesamanya.
Ada pula pemimpin yang memilih diam ketika suaranya justru dibutuhkan.
Perilaku seperti ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi apa yang sebenarnya ada di baliknya?
Melalui buku Ora Mung Bebendu Ora Mung Ngaku-aku Gusti Allah, Triyanto Triwikromo mengajak pembaca menelusuri keanehan perilaku manusia lewat cara pandang Jawa.
Penulis Jungkir Balik Jagat Jawa dan Nggragas! ini menggunakan penggalih, cara berpikir yang melibatkan pikiran sekaligus perasaan.
Ia membedah persoalan kekinian melalui tulisan yang lirih dan penuh pasemon, atau sindiran halus yang mengundang perenungan.
Pembahasannya bergerak dari pertemuan mitos dan nalar saat manusia menghadapi persoalan hidup, hingga orang yang mengaku sebagai Tuhan dan pemimpin yang membisu.
Pertanyaan-pertanyaan itu membuka ruang untuk melihat kembali keyakinan, tindakan, dan hubungan antarmanusia.
Bayangkan menikmati bacaan yang membuat Anda berhenti sejenak, lalu berpikir, “Mengapa hal seperti ini terasa begitu dekat?” Dari sana, membaca menjadi kesempatan untuk memahami orang lain sekaligus bercermin pada diri sendiri.
Bagi penikmat sastra, budaya Jawa, dan tulisan reflektif, buku ini menawarkan sudut pandang yang menarik untuk menyelami kehidupan masa kini.
Temukan makna di balik sindiran dan perilaku manusia.