Sains bergerak maju dengan membuang dogma lama demi bukti baru.
Di sisi lain, pemahaman agama kerap terjebak dalam interpretasi yang diwariskan tanpa kritik.
Apakah keduanya memang harus berjalan terpisah? Atau justru ada jembatan yang selama ini terlewat?
Melalui Metodologi Sains dan Pemahaman Keagamaan, Yahya Muhammad menantang dikotomi tersebut secara mendasar.
Ia menelusuri struktur sains modern dari era Isaac Newton hingga teori-teori kontemporer, membongkar asumsi metafisik yang sering tersembunyi di balik klaim objektivitas.
Secara bersamaan, ia mengkaji sistem keagamaan yang bergerak dalam lingkaran tradisi dan pola interpretasi yang mapan.
Yang mengejutkan, metode penafsiran agama seperti ta’wil ternyata memiliki korespondensi dengan prinsip-prinsip fundamental dalam sains, termasuk upaya “menyelamatkan fenomena” agar tetap koheren dengan kerangka teoretis.
Di sinilah buku ini membuka ruang dialog yang jarang disentuh: bahwa studi alam dan studi teks tidak harus saling menegasikan.
Dengan gagasan metodologis yang ia sebut ‘Ilm al-Thariqah, penulis menawarkan cetak biru sintesis antara penjelasan ilmiah dan penafsiran keagamaan.
Bukan untuk mencampuradukkan, tetapi untuk mendudukkan keduanya dalam dialog yang rasional dan bertanggung jawab.
Bagi Anda yang ingin memahami relasi antara sains dan agama secara lebih kritis, reflektif, dan mendalam, buku ini menghadirkan perspektif yang menggugah cara berpikir.
Saatnya keluar dari pemisahan palsu dan memasuki ruang dialog yang lebih utuh.
Dapatkan Metodologi Sains dan Pemahaman Keagamaan sekarang dan temukan sudut pandang baru tentang ilmu, iman, dan masa depan pemikiran kita.