Ada luka yang tidak terlihat. Tersimpan dalam pikiran, tumbuh dalam kesunyian, dan terlalu sulit dijelaskan kepada orang lain.
Angga Wijaya pernah tenggelam dalam suara-suara yang tidak didengar siapa pun.
Ia kehilangan arah dan merasa dunia enggan menatapnya.
Di tengah pergulatan itu, ia menemukan satu ruang aman untuk bertahan: menulis.
Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku menghadirkan kisah nyata seorang penyintas skizofrenia yang berusaha menata hidupnya kembali, satu kata demi satu kata.
Lewat tulisan, rasa cemas, takut, dan sedih perlahan mendapatkan tempat.
Bukan untuk dihapus sepenuhnya, melainkan untuk dipahami, diterima, dan diubah menjadi kekuatan dalam menjalani hari.
Buku ini membawa pembaca menyelami perjalanan pulih yang tidak selalu lurus.
Ada langkah maju, masa sulit yang kembali datang, dan keberanian-keberanian kecil yang membuat seseorang memilih bertahan sekali lagi.
Dengan kisah personal serta refleksi yang mendalam, Angga menunjukkan bahwa pulih tidak selalu berarti kembali menjadi diri yang dahulu.
Terkadang, pulih adalah keberanian menerima diri yang baru, hidup bersama ketidaksempurnaan, dan tetap menemukan alasan untuk melanjutkan perjalanan.
Buku ini bukan hanya untuk penyintas. Kisahnya juga dapat menjadi jendela bagi keluarga, sahabat, dan siapa pun yang ingin memahami perjuangan seseorang di balik kondisi kesehatan mentalnya.
Karena setiap luka berhak mendapatkan ruang untuk ditata, setiap suara layak didengar, dan setiap kehidupan pantas diperjuangkan.
Miliki buku Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku karya Angga Wijaya