Teknologi kini mampu menerjemahkan bahasa hanya dalam hitungan detik.
Namun, ketika yang diterjemahkan adalah Al-Qur’an, memindahkan kata saja tentu tidak cukup.
Setiap ayat mengandung kedalaman makna, konteks sejarah, budaya, spiritualitas, serta perspektif tafsir yang tidak selalu dapat dipahami secara linear.
Kesalahan kecil dalam membaca struktur bahasa Arab dapat menghasilkan pemahaman yang berbeda.
Buku Fikih Penerjemahan Al-Qur’an: Prinsip, Metode, Teknik karya Dr. Acep Hermawan, M.Ag. mengajak Anda melihat proses penerjemahan Al-Qur’an secara lebih ilmiah, kritis, dan bertanggung jawab.
Buku ini tidak serta-merta memandang Artificial Intelligence sebagai ancaman bagi penerjemah manusia. AI justru dibahas sebagai instrumen linguistik yang dapat membantu menganalisis akar kata Arab, pola derivatif, sintaksis, semantik, pragmatik, hingga aspek fonetik dan tajwid.
Melalui pembahasan yang modern dan akademik, pembaca diajak memahami kekuatan sekaligus keterbatasan AI.
Contoh pada QS. Az-Zumar ayat 9 dan QS. Fathir ayat 28 menunjukkan bahwa struktur bahasa Al-Qur’an membutuhkan ketelitian metodologis agar tidak diterjemahkan secara kaku atau kehilangan nuansa maknanya.
Inilah bacaan penting bagi akademisi, penerjemah, mahasiswa, pengajar, pemerhati bahasa Arab, serta siapa pun yang ingin memahami hubungan antara wahyu, bahasa, dan teknologi secara lebih mendalam.
Jangan biarkan kecanggihan teknologi mendahului kesiapan kita dalam memahami makna.
Miliki buku Fikih Penerjemahan Al-Qur’an sekarang dan temukan cara menyikapi penerjemahan Al-Qur’an di era AI dengan ilmu, etika, dan kesadaran spiritual.