Rumah seharusnya menjadi tempat untuk diterima. Namun, bagi Saidi, rumah justru menjadi awal pergulatan panjang untuk memahami dirinya.
Saidi lahir sebagai lelaki, tetapi memiliki pembawaan feminin.
Orang-orang menyebutnya calabai. Ayahnya, Puang Baso, sulit menerima kenyataan itu. Demi menghindari luka yang semakin dalam, Saidi memilih pergi.
Kepergiannya membuka jalan menuju Segeri, negeri para bissu.
Di sana, ia mempelajari warisan leluhur dan perlahan menemukan tempat bagi dirinya.
Calabai karya Pepi Al-Bayqunie menghadirkan kisah pencarian jati diri yang berpadu dengan adat dan tradisi Bugis.
Melalui perjalanan Saidi, pembaca diajak mengenal kehidupan bissu, para pemuka spiritual yang dalam kepercayaan setempat berperan menjaga keseimbangan alam.
Bayangkan mengikuti langkah seseorang yang harus meninggalkan rumah untuk menemukan rasa diterima.
Ada benturan dengan keluarga, keberanian menghadapi ketidakpastian, dan pencarian makna di tengah tradisi yang kaya.
Novel ini membuka ruang untuk memahami pengalaman manusia dari sudut pandang berbeda. Kisah Saidi mengajak kita merenungkan arti keluarga, penerimaan, dan keberanian menjalani hidup.
Bagi pencinta novel tentang pergulatan batin dan budaya Nusantara, Calabai menawarkan cerita yang layak dibaca perlahan dan direnungkan.
Ikuti perjalanan Saidi menemukan jati dirinya.